Retorika, Logika, dan Gramatika

Saya adalah salah satu dari sedikit orang yang percaya bahwa tidak ada buku yang sesat, jika ada anak baca buku yang salah kemudian tersesat maka obatnya adalah *membaca buku lebih banyak lagi* (ini serius), jika kita melarang anak membaca buku A buku B karena dikhawatirkan sesat, maka ketahuilah bahwa pelarangan membaca itu sendiri sudah merupakan bentuk kesesatan yang nyata.

 

Meskipun begitu kami tetap mengarahkan anak anak buku apa yang seharusnya dibaca terlebih dahulu dan buku apa yang dibaca nanti setelah pembendaharaan pengetahuan cukup matang.

 

Saya sampaikan ke anak anak, baca buku sebanyak banyaknya dari sudut pandang yang banyak, jika kamu selesai membaca buku tentang NU yang ditulis oleh orang wahabi maka kamu juga harus membaca buku tentang NU yang ditulis oleh orang NU sendiri, jika kamu membaca buku tentang syiah yang ditulis oleh orang sunni, maka kamu juga harus membaca buku syiah yang ditulis oleh orang syiah sendiri, bagitulah kebijaksanaan supaya sudut pandang berimbang.

 

Seperti hari ini, di MTs dan MA Internasional Mumtaza saat ujian retorika, logika dan gramatika, yaitu sebuah ujian yang dimaksudkan untuk mengukur kemampuan anak dalam menjelaskan suatu topik tertentu kami mendapati banyak anak yang mampu melahap novel ¾ ribu halaman, atau ada yang berani masuk ke ruang ujian dengan membawa belasan buku kemudian menyuruh kami untuk menguji buku apa yang dikehendaki penguji, bagi kami pribadi hal tersebut sungguh sangat sangat luar biasa.