Pagi ini saya dapat kabar dari kawan di Kairo bahwa sedang hangat berita mahasiswi Indonesia yang kedapatan joget2 di tempat umum untuk konten tiktok, sontak hal ini menjadi buah bibir di dunia nyata dan buih jari di dunia maya, yang jadi point tulisan kali ini bukanlah joget dan tiktonya, akan tapi apa yang dianggap sebagai suatu kenormalan di suatu daerah atau tempat, bisa sangat menjadi tidak normal (Abnormal) atau bahkan Luar Biasa (Upnormal) di tempat atau daerah lain.
.
.
Sering kami sampaikan kepada santri bahwa pondok punya standar kenormalan sendiri, jangan pernah membandingkan pondok dengan sekolah di luar non asrama, apa yang dianggap normal di sekolah luar non asrama bisa jadi sesuatu tersebut sangat tidak normal bagi pondok, begitupula sebaliknya.
.
.
Bangun jam 5 pagi diluar sana normal, di pondok itu sangat sangat tidak normal atau abnormal, normalnya di pondok itu ya bangun sebelum adzan subuh, begitu pula di luar sana bangun sebelum adzan subuh adalah sesuatu yang Upnormal atau sesuatu yang luar biasa, tapi bagi pondok itu adalah hal yang normal dan biasa saja.
.
.
Hal penting lain yang sering kami sampaikan kepada santri adalah : hanya karena kotoran kerbau dimakan banyak orang, tidak serta merta menjadikannya sebagai cokelat, kotoran kerbau tetaplah kotoran kerbau dan sampai kapanpun tidak akan pernah berubah menjadi cokelat.
.
.
Dalam kasus mahasiswi tiktok di parangraf pertama mereka lupa falsafah ini, mereka kira semua yang normal dalam benak mereka maka normal secara universal, ini bahaya karena dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya, sama seperti foto pelengkap tulisan ini, sarapan di bangunan kayu samping sawah adalah sesuatu yang biasa bagi santri mumtaza, namun bagi pembaca tulisan ini lihatlah betapa indahnya cahaya pagi menembus lembut hamparan sawah, membelai embun yang menunggu, menyinari para santri menyantap sarapan dengan hati yang teduh.