BOJONEGORO – Dalam momentum peringatan Hari Santri Nasional 2026, Pimpinan Pondok Pesantren Mumtaza Bojonegoro menyampaikan pesan penting tentang pola pendidikan santri. Menurutnya, membentuk santri yang unggul tidak cukup hanya dengan memberikan motivasi, tetapi juga harus disertai keteladanan dan pengulangan secara konsisten hingga menjadi kebiasaan.
Pesan tersebut menekankan bahwa motivasi merupakan langkah awal dalam mendorong santri untuk berkembang. Namun, semangat yang tumbuh perlu diwujudkan dalam tindakan nyata melalui dua pendekatan, yakni imitation (meniru atau meneladani) dan repetition (pengulangan).
Melalui imitation, santri diarahkan untuk belajar dari keteladanan para guru, pengasuh, dan lingkungan pesantren. Sementara itu, repetition menjadi proses pengulangan nilai-nilai dan perilaku positif secara terus-menerus agar tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Proses tersebut diharapkan melahirkan habituation, yaitu pembiasaan yang terbentuk melalui praktik yang dilakukan secara konsisten. Dengan demikian, pendidikan pesantren tidak hanya berorientasi pada pemahaman teori, tetapi juga pada pembentukan karakter dan keterampilan santri melalui pengalaman nyata.
Prinsip ini dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan santri. Dalam bidang kebahasaan, misalnya, kemampuan berbahasa tidak cukup hanya dipelajari melalui teori dan hafalan, tetapi perlu dilatih melalui praktik percakapan yang berulang. Dalam bidang keilmuan, santri perlu membangun kebiasaan membaca, mengkaji, berdiskusi, dan mengulang pelajaran agar ilmu semakin dipahami dan melekat.
Begitu pula dalam aspek akhlak, nilai-nilai seperti kesopanan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan penghormatan kepada guru harus terus dipraktikkan hingga menjadi bagian dari kepribadian santri. Akhlak yang baik bukan sekadar sesuatu yang diketahui, melainkan nilai yang tercermin dalam sikap dan tindakan sehari-hari.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari seberapa banyak motivasi yang diberikan atau pengetahuan yang disampaikan, tetapi juga dari sejauh mana nilai-nilai tersebut diterapkan secara nyata dan berkelanjutan.
Melalui pendekatan imitation, repetition, dan habituation, Pondok Pesantren Mumtaza Bojonegoro meneguhkan pentingnya pendidikan yang menyatukan ilmu, keteladanan, latihan, dan pembiasaan. Harapannya, santri tidak hanya memiliki semangat untuk menjadi lebih baik, tetapi juga tumbuh dengan kebiasaan baik yang mengakar dalam kehidupan mereka.
Sebab, santri yang hebat bukan hanya santri yang mengetahui apa yang baik, melainkan santri yang terus belajar meneladani kebaikan, mengulanginya dalam keseharian, hingga kebaikan itu menjadi karakter dalam dirinya.